Ada Rahasia Tersembunyi Dalam Usus Panda

Rabu, 26 Oktober 2011
Panda raksasa, hewan yang menjadi ciri khas negeri China ternyata tidak begitu saja mengonsumsi bambu.

Menurut studi yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of National Academy of Sciences, ada mikroorganisme di usus mereka yang membantu mencerna tumbuhan itu meski usus mereka sebenarnya lebih cocok untuk makan daging.


http://assets.kompas.com/data/photo/2011/10/19/2214316620X310.jpg

Di dunia satwa, panda (Ailuropoda melanoleuca) merupakan hewan yang paling pilih-pilih dalam urusan makanan. Di alam bebas, mereka makan lebih dari 12 kilogram bambu setiap hari dan hanya sedikit mengonsumsi makanan lain.

Mereka perlu makan sebanyak itu karena meski bambu mengandung protein, gula, lemak, dan nutrisi lain, sebagian besar kalorinya terkunci di serat selulosa yang sulit dicerna.

Dari sebuah penelitian terhadap dua ekor panda, diketahui bahwa 92 persen selulosa dan 73 persen hemiselulosa pada bambu yang dimakan panda hanya ‘numpang lewat’ dan berakhir di feses.

Sebagian besar herbivora mengembangkan cara untuk memecah selulosa menjadi gula. Sebagai contoh, sapi dan hewan lain memiliki sistem pencernaan rumit yang memiliki beberapa perut yang penuh dengan mikroba. Mereka mencerna berkali-kali untuk mengekstrak nutrisi dalam jumlah maksimal.

Namun panda merupakan beruang, hewan yang umumnya mengonsumsi daging dan tidak memproduksi enzim yang dibutuhkan untuk mencerna selulosa atau memiliki mikroba seperti hewan herbivora.

Dari survei terhadap usus panda, ternyata hewan itu punya mikroorganisme yang sama seperti beruang hitam, beruang kutub, dan pemakan daging lainnya.

Fuwen Wei, ekolog dari Institute of Zoology, Chinese Academy of Sciences di Beijing kemudian memperhatikan lebih lanjut mikroba yang hidup di dalam usus panda.

Mereka mengumpulkan sampel dari 7 ekor panda liar di pegunungan Qinling dan Xiangling di China tengah dan barat, serta 8 ekor panda yang ada di penangkaran untuk diteliti DNA, bakteria dan juga gen mikrobial yang ada di usus mereka.

Meski panda liar dan panda yang ada di penangkaran mengonsumsi makanan serta punya gaya hidup yang berbeda (panda di penangkaran memakan lebih beragam makanan termasuk buah dan susu), mereka cenderung memiliki spesies mikroba yang sama di ususnya.

Kedua kelompok beruang itu punya enzim yang memecah selulosa menjadi gula yang lebih sederhana.

Enzim mikrobial itu membantu panda mengekstrak energi lebih banyak dari sedikitnya jumlah bambu yang berhasil mereka proses.

Mikroba ini merupakan bagian dari adaptasi evolusioner, selain rahang dan gigi yang kuat, jari dan tulang yang memungkinkan mereka mencengkram tangkai, yang membantu panda hidup hanya dari bambu meski mereka punya sistem pencernaan hewan karnivora.

Meski demikian, Ruth Ley, mikrobiolog dari Cornell University, New York menyebutkan, panda juga punya enzim pencerna selulosa yang lebih sedikit dibandingkan spesies herbivora non eksklusif seperti manusia.

"Kami melihat panda sebagai hewan yang beradaptasi dengan buruk. Cara utama bagaimana panda beradaptasi terhadap makanan berkualitas rendah bukanlah lewat mikrobiota seperti sebagian besar hewan lain, tetapi dengan cara makan terus menerus selama 15 jam per hari," ucapnya.

Sumber :
kompas.com

Beda Warna Kulit Ternyata Kembar, Kok Bisa?

Di sini, mungkin masih jarang terlihat bayi kembar yang memiliki warna kulit berbeda. Tapi, di beberapa belahan dunia lain ternyata fenomena ini semakin marak.

Misalnya saja di Inggris. Pasangan Kaydon Wood dan Layton Wood menjadi selebriti lokal dan berita utama di Koran regional. Bahkan, publik tetap heran begitu mengetahui mereka berdua benar-benar saudara kembar.




Tiap tahun, terdapat 12 ribu pasang bayi kembar lahir di Inggris. Di antaranya, 385 merupakan bayi berkulit hitam atau dari ras campuran. Saudara kembar ini termasuk sangat langka. Pasalnya, hanya ada dua dalam satu juta bayi kembar lahir dengan kondisi ini.

Bagaimana femonema ini bisa dijelaskan secara ilmiah? Ahli genetik populasi Dr Jim Wilson dari University of Edinburgh menjelaskan, “Anda bisa meramalkan, dua keturunan kulit putih murni tak akan bisa mendapat kembar hitam putih dan begitu sebaliknya pada dua keturunan murni Afrika”.

Namun, bukanlah suatu hal mustahil untuk meramalkan berkulit apakah orang yang memiliki warisan campuran Afrika dan Eropa. “Karena orang tua berkontribusi 50% pada gen tiap keturunan, generasi pertama yang lahir adalah pasangan campuran ras di antara kedua warna ini,” katanya.

Pada generasi kedua akan berbeda, lanjutnya. Jika salah satu keturunan menikahi orang putih, terdapat probabilitas baru anak yang lahir juga berkulit putih karena keturunan tersebut tak lagi memiliki varian 50/50 hitam dan putih.

“Saat orang tua dengan ras campuran dan satu berkulit putih, kesempatan lahirnya bayi berkulit putih masih kecil namun satu dalam 10 bayi yang ada kini memiliki ras campuran yang artinya potensi lahirnya kembar hitam putih bisa lebih mungkin,” paparnya.

Demikianlah yang terjadi dengan orang tua si kembar Wood. Sang ibu, Kerry Wood (32) yang menikah dengan Paul Wood (32). Awalnya dokter menyatakan si kembar terkena penyakit kuning yang memberi kesan kulit kedua bayi berwarna coklat seperti habis berjemur.

“Namun secara perlahan, si kembar berubah warna dan pada usia enam pekan, warna makin tampak, satu putih berambut pirang dan mata biru sedangkan satunya lagi berkulit gelap dengan rambut keriting,” katanya.

Kerry mengaku memiliki ras campuran dengan ayah dari Nigeria dan ibu berkulit putih serta ayah si kembar juga merupakan pria berkulit putih. “Di tiap gen terdapat varian kulit putih dan gelap. Jika varian kulit gelap lebih banyak dalam DNA, maka Anda akan mewarisi kulit gelap begitu pula sebaliknya,” papar Wilson.

Alasan genetik untuk fenomena ini relatif mudah dipahami namun hidup dengan respon masyarakat pada fenomena ini bisa jauh lebih rumit, lanjutnya. Untuk jangka panjang, meningkatnya kolam gen campuran akan memiliki efek luar biasa pada kesehatan.

Sumber :
inilah.com

Ternyata Setetes ASI Bisa Dibuat Jadi Organ Tubuh

Teknologi sel punca atau stem cell memungkinkan sel apapun diubah dan dikembangkan menjadi suatu jaringan atau bahkan organ tubuh. Bahan bakunya tak harus berasal dari plasenta atau sumsum tulang, kini ASI (Air Susu Ibu) juga bisa dibuat stem cell.

Para ilmuwan dari University of Western Australia (UWA) mengatakan kelebihan utama stem cell dari ASI adalah jauh lebih mudah didapat. Cara memperoleh ASI cukup dengan memeras sedangkan embrio, plasenta atau sumsum tulang harus lewat prosedur yang lebih rumit.

Meski dikeluarkan kelenjar-kelenjar di payudara, stem cell dari ASI juga tidak harus dikembangkan menjadi jaringan payudara saja.

Sama seperti kebanyakan stem cell dari sumber lain, stem cell dari ASI juga bersifat pluripoten dalam arti bisa dikembangkan menjadi jaringan apapun.


http://media.vivanews.com/images/2011/01/28/104073_menyusui-asi.jpg

Para ilmuwan bahkan mengklaim, stem cell dari ASI bisa dikembangkan menjadi organ-organ atau jaringan apapun yang sewaktu-waktu bisa digunakan untuk pencangkokan.

Jaringan atau organ yang bisa dibuat dari ASI antara lain tulang, sendi, otak, lemak atau bahkan hati dan pankreas.

"Jika kita memahami komponen ASI dan cara kerja sel-sel yang terlibat dalam proses menyusui, maka kita bisa memakainya sebagai model untuk terapi stem cell yang inovatif," ungkap Foteini Hassiotou yang memimpin penelitian itu, seperti dikutip dari Indiavision.

Di Australia sendiri, tiap tahun diperkirakan ada 1.000 kali pencangkokan stem cell sedangkan di seluruh dunia angkanya mencapai 60.000 tiap tahun.

Terapi pencangkokan stem cell biasanya dilakukan untuk mengatasi penyakit-penyakit yang dipicu oleh kerusakan sel, seperti parkinson dan diabetes.

Secara prinsip, pengembangan stem cell hampir mirip dengan teknologi kloning atau menggandakan makhluk hidup tanpa melalui proses perkawinan.

Bedanya, kloning dibuat dari stem cell berjenis totipoten sedangkan stem cell untuk terapi biasanya menggunakan jenis pluripoten atau multipoten.

Sumber :
detikhealth.com

Foto Menakjubkan Letusan Gunung Berapi di Iceland dari Jarak Dekat

Sebagian besar orang tentu lebih memilih menghindar ketika terancam oleh letusan gunung vulkanik yang menghasilkan lava panas hingga 1,000C. Namun tidak bagi Skarphedinn Thrainsson, seorang fotografer pemberani yang berani menantang maut demi memperoleh foto-foto yang memang menakjubkan.

"Itu adalah pengalaman yang paling menakjubkan dalam hidup saya" ujar Skarphedinn.

"Anda merasa begitu kecil dan tak berdaya di depan gunung vulkanik. Dan kembali ke fotografi landscape yang normal setelah mengalami hal tersebut, rasanya membosankan"

Skarphedinn, yang berasal dari Reykjavik, Iceland, mengambil foto-foto indahnya pada saat letusan gunung Fimmvorduhals dan Eyjafjallajokull, yang sempat menimbulkan kehebohan di Eropa sekitar 2 tahun lalu.

Gunung berapi di Fimmvorduhals merupakan gunung yang cenderung lebih friendly. Namun, Eyjafjallajokull waktu itu letusannya mengerikan, yang abunya sempat mematikan industri penerbangan di Eropa.

"Sangatlah berbahaya di sekitar area Eyjafjallajokull, ICeland, waktu saya mengambil sebagian besar foto tahun lalu, karena petir menyambar-nyambar di balik abu pekat"

"Petir sempat menyambar di dekat spot saya berdiri malam itu. Dua orang meninggal secara tragis karena tersesat malam itu setelah melakukan observasi disana." tambahnya.


Skarphedinn kini terobsesi untuk mengabadikan momen-momen luar biasa, dan target selanjutnya adalah Hawaii dan lokasi menakjubkan lainnya. Namun ia menyatakan siap untuk memotret jika suatu waktu gunung di Iceland kembali meletus.

Gambar bibir gunung berapi yang sedang meletus ini menghasilkan foto menakjubkan yang nampak seperti hujan api


Petir menggelegar dan memecah langit seiring asap hitam mengebul keluar dari gunung berapi


Dari awan, nampak menyeruak gambar yang mirip angsa hitam, dan di baliknya badai petir berwarna keunguan


Gambar seseorang yang nampaknya mengarah ke kamera -  atau ia justru semakin dekat ke gunung berapi?


Skarphdinn memotret gambar sesama fotografer yang juga berburu foto indah tepat di bibir gunung berapi


Sekelompok orang sedang mensurvei gunung dari jarak dekat, yang jelas bukan jarak aman


Dengan langit malam sebagai latar belakangnya, dan lava yang menjalar turun dari gunung, membuat foto ini seolah berasal dari dunia yang lain


Indahnya Aurora Borealis di atas gunung berapi yang aktif mengeluarkan lava


Gunung berapi yang mengeluarkan lava berwarna oranye, menciptakan kontras yang indah dengan langit


Sepasang fotografer yang bersiap kabur jika percikan lavanya terlalu dekat dengan mereka


Sumber: